Tim Tahiti Diprediksikan Menjadi Lumbung Gol Tim Spanyol

Tim Nasional Tahiti

Spanyol akan menghadapi Tahiti di babak penyisihan Grup B Piala Konfederasi 2013 di Stadion Maracana, Kamis 20 Juni 2013 atau Jumat dini hari WIB. Jika dilihat dari rangking kedua negara tersebut, banyak yang memprediksi Spanyol akan menghancurkan Tahiti. Ya, saat ini Spanyol menjadi tim terbaik versi FIFA sedangkan Tahiti rangking 138 dunia.

Bagi Tahiti, keikutsertaan mereka ke Piala Konfederasi ini merupakan untuk pertama kalinya. Mereka datang dengan status sebagai Juara Oseania. Sadar jika negara mereka akan menjadi lumbung gol, pelatih timnas Tahiti, Eddy Etaeta bahkan mengatakan akan senang jika bisa mencetak gol ke gawang lawan.

Doa Etaeta dikabulkan, saat melawan Nigeria di laga perdana di Piala Konfederasi, Tahiti bisa mencetak gol ke gawang The Super Eagles lewat Jonathan Tehau. Meski akhirnya harus mengakui keunggulan Nigeria dengan skor 1-6, Etaeta mengaku bangga terhadap para pemain Tahiti. Bahkan emosi sempat menyelimuti dirinya saat lagu kebangsaan dikumandangkan.

“Saya benar-benar tergerak, hampir saja menangis. Kami menonton Piala Dunia hanya lewat televisi. Sekarang, kami pesertanya,” ujar Etaeta pada FIFA.com. Tahiti merupakan negara terkecil yang pernah mengikuti turnamen senior FIFA tercatat hampir tidak memiliki pemain profesional di dalam skuad mereka.

Satu-satunya pemain profesional di skuad Tahiti adalah Marama Vahirua yang bermain di klub Nancy di Ligue 1 Prancis. Tak heran jika seluruh masyarakat Tahiti menonton pertandingan bersejarah tersebut. “Seluruh masyarakat Tahiti menonton. Presiden kami mengirimkan pesan dan bahkan menunda seluruh rapat kabinet (untuk menonton laga ini),” lanjut sang pelatih. Lumbung Gol Tahiti yang dijuluki Team Fenua ini sebenarnya bukanlah negara pertama yang menjadi lumbung gol di Piala Konfederasi. Sebelumnya, beberapa negara di Asia dan Oseania seperti Arab Saudi, Australia dan Selandia Baru kerap menjadi bulan-bulanan negara kuat di Eropa dan Amerika Latin.

Arab Saudi misalnya, mereka pernah dipermalukan Brasil 2-8 di PIala Konfederasi 1999. Atau Selandia Baru yang takluk 0-5 dari Spanyol di Piala Konfederasi 2009.

Lalu berapa gol yang akan dicetak La Furia Roja ke gawang Tahiti nantinya? Apakah pelatih Vicente Del Bosque akan memainkan pemain andalannya demi mengamankan tiket ke semifinal? Menarik untuk melihat taktik kedua pelatih, yang jelas kemenangan bisa memperlancar jalan La Roja ke semifinal.

Hasil-hasil mengejutkan di Piala Konfederasi 1997 – 2009

Piala Konfederasi 1997

Piala Konfederasi pertama yang diorganisir FIFA, banyak tercatat pesta gol di babak penyisihan grup. Arab Saudi yang bertindak sebagai tuan rumah dibungkam 0-3 dan 0-5 oleh Brasil dan Meksiko di babak penyisihan grup. Sementara itu wakil Asia lainnya, Uni Emirat Arab takluk 1-6 dari Republik Ceko. Tak hanya itu, laga finalnya juga berat sebelah. Bayangkan saja, Brasil yang saat itu diperkuat Ronaldo dan Romario melumat Australia dengan skor 6-0 di final.

Brasil 5 – 0 Arab Saudi
Republik Ceko 6 – 0 Uni Emirat Arab
Brasil 6 – 0 Australia

Piala Konfederasi 1999

Arab Saudi lagi-lagi harus menjadi lumbung di turnamen yang diadakan di Meksiko tersebut. Pertama di babak penyisihan grup, mereka harus kebobolan lima kali dan kalah 1-5 dari Meksiko. Di semi-final, Arab Saudi kembali menelan kekalahan memalukan dari Brasil. Tak tanggung-tanggung, Ronaldinho cs menyarangkan delapan gol dan menang 8-2 atas wakil Asia tersebut. Uniknya, The Green Falcons pesta gol ke gawang Mesir, di babak penyisihan grup, mereka menang 5-1.

Meksiko 5 – 1 Arab Saudi
Arab Saudi 5 – 1 Mesir
Brasil 4 – 0 Jerman
Brasil 8 – 2 Arab Saudi

Piala Konfederasi 2001 dan 2003

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, Piala Konfederasi yang diadakan di Korea/Jepang sebagai turnamen pemanasan jelang Piala Dunia 2002 ini tidak banyak terjadi pesta gol. Prancis yang bermain sebagai juara Piala Eropa 2000 tampil superior dengan menang telak 5-0 dan 4-0 atas Korea Selatan dan Meksiko. Sementara itu di Piala Konfederasi 2003 juga hanya terjadi satu “pembantaian” yaitu ketika Prancis mengalahkan Selandia Baru 5-0.

Piala Konfederasi 2001
Prancis 5 – 0 Korea Selatan
Prancis 4 – 0 Meksiko

Piala Konfederasi 2003
Prancis 5 – 0 Selandia Baru

Piala Konfederasi 2005 dan 2009

Di dua Piala Konfederasi terakhir juga tidak ada tim yang benar-benar menjadi lumbung gol. Pada Konfederasi 2005, kekalahan telak justru terjadi di final saat Brasil bertemu Argentina. Tak disangka, Selecao menghancurkan Tim Tango 4-1. Sementara di Piala Konfederasi 2009, kekalahan telak hanya dialami Selandia Baru yang kalah 0-5 dari Spanyol.

Piala Konfederasi 2005
Brasil 4 – 1 Argentina

Piala Konfederasi 2009
Spanyol 5 – 0 Selandia Baru

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *