Tag Archives: Shinji Kagawa

Di Dortmund, Kagawa Bakal Buat MU Menyesal

 

kagawaisi

Bek Borussia Dortmund, Sebastian Kehl, menyambut gembira kembalinya Shinji Kagawa ke Signal Iduna Park. Ia berharap Kagawa bisa menemukan kembali kemampuan terbaiknya.

Pemain timnas Jepang itu bergabung dengan MU di awal musim 2012-13. Selama dua musim berseragam Setan Merah, Kagawa gagal menunjukkan permainan terbaiknya. Ditambah lagi cedera lutut yang kerap membekapnya, membuat karirnya tenggelam.

Di awal musim 2014-15, pelatih baru MU, Louis van Gaal, akhirnya memulangkan Kagawa ke Dortmund menyusul hadirnya sejumlah nama besar seperti Ander Herrera, Angel Di Maria dan Radamel Falcao.

Kembali ke Dortmund, Kehl berharap rekan setimnya itu merasa nyaman di rumah lamanya dan segera bangkit menemukan bentuk terbaiknya guna membuktikan MU salah menjualnya.

“Anda bisa melihat bahwa Sangat melegakan bagi Shinji Kagawa bisa meninggalkan Manchester United untuk Dortmund,” jelas Kehl kepada SportBild.

“Ini bukanlah situasi yang mudah baginya di Manchester United dalam beberapa pekan. Dan kemudian ada komentar dari pelatihnya (Jurgen Klopp) menginginkannya kembali ke Dortmund. Ia mendapat kepercayaan disini. Segalanya yang telah hilang dalam beberapa bulan lalu, kini telah kembali,” pungkasnya.

Saat masih membela Dortmund, Kagawa berhasil memenangkan dua gelar juara Bundesliga Jerman (2010-11 dan 2011-12) serta satu gelar Piala Jerman (2011-12).

Shinji Kagawa dan Anomali Sepakbola Inggris Lainnya

kagawaisi

Raut di wajah Juergen Klopp menjelaskan semuanya: Semringah dengan cengiran lebar mengembang. Anak hilang itu, Shinji Kagawa, sudah pulang ke tempat dia dirindukan.

Klopp punya hak sepenuhnya untuk tersenyum. Katanya, ketika dulu Kagawa memutuskan untuk hengkang ke Manchester United, Klopp menangis dan dia mengaku tambah sedih melihat Kagawa tidak dimainkan sebagaimana mestinya di Old Trafford.

Kini Kagawa sudah kembali. Dari Manchester yang cuacanya kerap mendung dan hujan, ke Dortmund yang –seperti ketika dia diperkenalkan dengan kostum kuning bernomor 7– lebih cerah.

You don’t need sunglasses in Manchester,” ujar eks bek United sekaligus kawan akrab Kagawa, Alexander Buttner, suatu waktu, merujuk pada cuaca kota Manchester.

Ya, hari-hari yang mendung itu sudah berlalu untuk Kagawa.

****

Ada beberapa faktor yang menyebabkan Kagawa bisa dibilang tidak sukses di United. Kendati dia jadi orang Asia pertama yang sukses membukukan hat-trick di Premier League dan membantu ‘Setan Merah’ menjuarai Premier League 2012/2013, permainannya bisa dibilang tak semengilap ketika masih di Dortmund.

Untuk faktor yang pertama, ada baiknya menyimak ucapan Juergen Klopp yang “legendaris” itu: “Shinji Kagawa adalah adalah salah satu pemain terbaik di dunia dan sekarang dia hanya bermain selama 20 menit di Manchester United –di sayap kiri! Hati saya benar-benar hancur.”

Buat seorang pelatih yang menemukan talenta Kagawa, Klopp memang paham bagaimana menggunakan Kagawa dengan semestinya. Sebagai gelandang, Kagawa cerdas, punya kemampuan untuk mencari dan menemukan celah. Di luar itu, dia juga merupakan pemberi passing yang brilian. Atas berbagai atribut itu, posisi terbaiknya pun jelas: Sebagai “nomor 10”.

Di sinilah masalah jadi rumit. United di bawah Sir Alex Ferguson adalah tim dengan kultur British kental. Tidak peduli seperti apa pun taktik yang dimainkan, United adalah tim yang mengandalkan permainan sayap. Bahkan, pemain sekaliber Cristiano Ronaldo mengawali kariernya sebagai winger di United.

Kala terakhir kali menjuarai Eropa dengan formasi 4-3-3 pada 2008 pun United tidak benar-benar meninggalkan permainan sayap. Ronaldo atau Wayne Rooney kerap bergerak ke pinggir untuk kemudian melepaskan umpan silang.

Sial buat Kagawa, dia datang ketika United mulai rigid dan memainkan 4-4-2.

Awalnya, kedatangan Kagawa diperkirakan bisa membuat United bermain dengan 4-2-3-1. Dengan Robin van Persie sebagai penyerang tunggal dan Rooney berada di belakangnya, Kagawa diprediksi bakal bermain di sisi kanan atau kiri Rooney sebagai attacking midfielder yang kerap menusuk masuk.

Tapi, apa daya. Kagawa hanya beberapa kali dimainkan sebagai “nomor 10”. Keberhasilannya mencetak hat-trick ke gawang Norwich City pun muncul karena dia dimainkan di posisi tersebut. Selebihnya, seperti yang dikatakan Klopp, Kagawa bermain sebagai sayap kiri.

Kagawa bukanlah korban pertama. Entah mengapa, kultur sepakbola Inggris acapkali menempatkan mereka yang bertalenta tinggi dan punya kemampuan skill rupawan untuk ditempatkan sebagai pemain sayap.

Dulu ketika timnas Inggris kesulitan mencari sayap kiri –mereka tidak pernah kesulitan dengan sayap kanan, karena setelah Darren Anderton muncullah David Beckham, lalu kemudian Aaron Lennon– Paul Scholes pun terpaksa dipasang di posisi tersebut. Imbasnya, talenta Scholes tidak termaksimalkan dengan baik.

Scholes, sama seperti halnya Kagawa, adalah pemain cerdas dengan kemampuan melepas passing di atas rata-rata. Ketika dia dimainkan sebagai sayap kiri hanya untuk melepas crossing, maka sia-sia sajalah kemampuannya. Scholes akhirnya memilih pensiun dari timnas Inggris dengan alasan ingin berkonsentrasi untuk klub dan keluarga.

Setelah Scholes, sempat pula ada Joe Cole yang ditempatkan sebagai sayap kiri hanya karena dia mampu menggiring bola lebih baik dibandingkan pemain-pemain timnas Inggris lainnya saat itu. Dan kita semua tahu bahwa Joe Cole aslinya adalah gelandang serang.

Di Inggris, ini adalah anomali. Keterbatasan kultur permainan dan taktik mereka untuk mengakomodasi pemain-pemain genius tidak hanya mematikan Kagawa ataupun Scholes, tetapi juga Matt Le Tissier untuk masa yang jauh lebih lama lagi. Le Tissier yang begitu liat dengan bola tentu tidak cocok jika sekadar dimainkan sebagai penyerang dalam 4-4-2 –biar itu jadi tugas Alan Shearer saja.

Le Tissier yang liat itu sepatutnya diberikan free role dan tidak dibatasi ruang bernama posisi. Tapi, ketika Le Tissier sedang jaya-jayanya, apakah Inggris tega meninggalkan 4-4-2?

Masih ada pula cerita John Obi Mikel, yang disebut bertalenta luar biasa sebagai seorang gelandang serang dan amat bagus dipasang di belakang penyerang, tapi akhirnya jadi gelandang bertahan di Chelsea.

Di United, anomali salah menempatkan pemain, ironisnya, juga sering terjadi. Sebelum Kagawa, ada Anderson yang seharusnya adalah gelandang serang yang kemudian dialih-fungsikan sebagai box-to-box midfielder.

Salah seorang pengamat sepakbola pernah menggambarkan bahwa Anderson adalah “nomor 10” brilian di Piala Dunia U-17 tahun 2005 dengan banyak trik menarik di kakinya. Namun, karena kemampuan fisiknya, Sir Alex Ferguson pun lebih tertarik untuk memainkannya sebagai seorang gelandang tengah ataupunbox-to-box midfielder. Kita semua kemudian tahu bagaimana perkembangan Anderson di United.

Tom Cleverley pun demikian. Mencuat dari akademi dan bermain dari satu peminjaman ke peminjaman lain sebagai gelandang serang, Cleverley belakangan malah dikembangkan sebagai gelandang tengah. Cedera serius pada awal-awal musim 2011/2012 ditambah dimainkan tidak pada posisi terbaiknya disinyalir menjadi penyebab perkembangan Cleverley terhambat.

****

Kedatangan Louis van Gaal di awal musim ini sempat membuat harapan untuk Kagawa timbul. Van Gaal berniat untuk mengubah Kagawa menjadi “nomor 6” atau “nomor 8”. Sial, Van Gaal akhirnya menyadari bahwa Kagawa tidak bisa memenuhi keinginannya. Kedua posisi itu juga bukanlah posisi terbaiknya.

Kalaupun mau melihat dari sisi lain, fakta bahwa Kagawa kesulitan ketika harus beradu fisik dengan pemain-pemain bertahan klasik di Premier League, juga bisa dijadikan salah satu alasan dia sulit berkembang di United. Jangan heran jika melihatnya bermain lebih oke di kancah Liga Champions ketimbang di Premier League, di mana laga melawan Bayer Leverkusen musim lalu bisa jadi salah satu contohnya.

Oleh karenanya, kembalinya Kagawa ke Dortmund bisa dibilang adalah yang terbaik untuk semua pihak. Untuk Kagawa, dia telah menemukan tempat di mana dia dibutuhkan dan bisa dimainkan dengan sebaik-baiknya. Untuk United, mereka jadi tidak perlu menelantarkan talenta bagus lebih lama lagi.

Ada kabar bahwa Klopp belakangan berpikir untuk menggeser Henrikh Mkhitaryan ke pinggir dan memberikan posisi tengah (nomor 10) untuk Kagawa. Dengan demikian, Kagawa akan diapit oleh Mkhitaryan dan Marco Reus untuk menopang penyerang tunggal di depan dalam formasi 4-2-3-1. Reus, yang butuh tandem “nomor 10” brilian seperti halnya Mario Goetze dulu, diprediksi akan diuntungkan karena ini.

Kini, liga-liga Eropa tengah menjalani libur lantaran adanya laga-laga internasional. Kita masih harus bersabar menunggu kiprah Kagawa di tanah yang pernah menyuburkannya.

5 Pemain MU yang Bakal Dipecat Van Gaal

1400863260

Dalam beberapa jam ke depan, Manchester United akan mengakhiri turnya di AS dengan menjalani partai final International Champions Cup 2014 menghadapi musuh bebuyutan Liverpool di Sun Life Stadium, Miami Gardens, Florida.

Nah, setelah kembali ke Manchester, manajer Louis van Gaal bakal memanggil sejumlah pemain dan memberi keputusan bakal tidaknya mereka masuk dalam skuat Setan Merah di musim depan. Van Gaal sendiri telah menjamin ia akan bertemu empat mata dengan pemain yang bakal dipersilakannya keluar dari Theatre of Dreams.

Menurut Express, lima pemain terancam bakal mendapat surat pemecatan dari Van Gaal. Dari kelima pemain tersebut, tiga di antaranya menempati peringkat paling atas dalam daftar coret, yaitu winger Portugal Luis Nani, striker Meksiko Javier Henandez, dan gelandang Jepang Shinji Kagawa. Dua pemain lainnya yang juga diklaim akan tersingkir dari skuat inti adalah Marouane Fellaini dan Anderson.

“Saya akan membuat penilaian dan keputusan setelah tur AS berakhir. Sejauh ini saya telah memberi kesempatan kepada seluruh pemain untuk tampil. Jadinya, saya lebih tahu dengan kualitas yang mereka miliki ketimbang sebelumnya,” tutur Van Gaal.

Van Gaal menilai pemain yang bakal dicoret berhak mendapatkan waktu yang cukup untuk mencari klub barunya. “Anda harus memberikan kesempatan kepada pemain untuk mencari klub baru. Sebab, sangat terlambat jika itu dikatakan setelah 31 Agustus. Saya sendiri yang akan mengatakannya pada mereka. Bukan kepada Anda (jurnalis),” tegas Van Gaal.

Di musim panas ini, tercatat enam pemain telah meninggalkan MU, yaitu Rio Ferdinand, Nemanja Vidic, Patrice Evra, Alexander Buttner, Federico Macheda, dan Bebe. Sementara, Ryan Giggs beralih profesi menjadi asisten manajer. Van Gaal baru mendapatkan tambahan dua pemain, yaitu Luke Shaw dan Ander Herrera.

Shinji Kagawa: Laga Tandang Krusial Di Liga Champions

kagawaManchester United harus dapat membawa pulang hasil positif dari markas Olympiakos karena itu akan bermakna sangat penting buat upaya mereka melangkah jauh di Liga Champions musim ini, demikian ditekankan Shinji Kagawa.

The Red Devils, yang menyudahi babak penyisihan sebagai jawara grup, memperoleh privilese untuk bertandang lebih dahulu ke Stadion Karaiskakis pada leg pertama fase 16 besar, Rabu (26/2) dinihari WIB, dan Kagawa menyadari hasil bagus menjadi syarat mutlak untuk United sebagai bekal menjamu Olympiakos di Old Trafford pada laga kedua.

“Ketika Anda mencapai babak ini di kompetisi Anda tak boleh terpeleset atau Anda akan tersingkir. Laga tandang sangat penting, kami harus mendapatkan hasil baik di sana,” kata pemain Jepang itu di situs resmi klub.

“Kami memiliki banyak pemain berpengalaman dalam skuat yang mudah-mudahan dapat membantu kami mencapai target tersebut.”

“Kampanye Liga Champions kami musim lalu berakhir di babak 16 besar, jadi kami ingin melaju lebih jauh kali ini. Olympiakos adalah tim bagus dan karenanya tak ada laga mudah di kompetisi ini, kami mengetahui itu. Kami harus bersiap sebaik mungkin.”

United punya rekor bagus menghadapi Olympiakos, dengan rekor 100 persen menang dalam empat pertemuan sebelumnya kontra utusan Yunani tersebut.

Fans Shinji Kagawa Ajukan Protes kepada Manchester United

jurgen-klopp-dan-shinji-kagawa-dortmund

Dua laga telah dimainkan Manchester United di kancah Liga Inggris musim ini. Shinji Kagawa yang mengklaim buruk akan prestasinya di musim lalu, ternyata juga dipaksa mengawali musim 2013/2014 dari bangku cadangan. Dianggurkannya Kagawa oleh kubu Setan Merah mengundang protes dari para fans pemain internasional Jepang ini.

Tercatat sebagai pemain cadangan dalam laga perdana MU kontra Swansea City, kenyataannya tidak membuat Kagawa mendapat kesempatan turun ke lapangan. Di pekan kedua, ketika rekan-rekannya berkeringat melawan anak asuhan Jose Mourinho, Selasa (27/8/13) dini hari kemarin, nama Kagawa juga tidak diturunkan oleh David Moyes.

Hal ini membuat para pencinta Borussia Dortmund menyuarakan protes akan kebijakan Moyes. Di dalam jejaring sosial Twitter, para fans dari Inggris, Brazil, Jerman dan negara lainnya membuat hashtag #freeshinji.