Tag Archives: Piala Konfederasi

Fluminense pagari Fred dari incaran City-Trabzonspor

6CGChEvo9PFluminense sepertinya tidak ingin kehilangan penyerang terbaik mereka Fred setelah kencang spekulasi ketertarikan klub asal Turki, Trabzonspor kepada pemain asal Brasil tersebut. Pemain yang bergabung bersama Fluminense dari Olympique Lyon, 2009 lalu telah lama dikaitkan dengan klub besar Eropa seperti Manchester City tetapi Trabzonspor kabarnya tengah gencar mendekati Fred.

“Tidak ada tawaran yang datang untuknya, apalagi nilai pembelian Fred sangat tinggi. Ia pemain yang sangat penting bagi klub, jadi kami akan coba untuk tetap tenang. Jika ini terserah kepada keinginan manajemen klub, maka ia akan meninggalkan Fluminense jika ia mengatakan ingin pergi,” ucap Direktur Sepak bola Fluminense, Rodrigo Caetano seperti dilansir Sky Sports, Minggu (4/8/2013).

Fred sebelumnya kerap diisukan bakal hengkang ke Stadion Etihad setelah penampilan mengesankan pemain berusia 29 tahun itu di Piala Konfederasi, termasuk dua gol selama 3-0 kemenangan atas Spanyol, namun Caetano, menegaskan bila pemainnya akan tetap bertahan.  “Fred berada di bawah kontrak dengan Fluminense, ia sangat senang di klub dan kami sangat puas dengan dia,” sambungnya.

Seperti diketahui selain gemilang bersama skuad Brasil, Fred juga menjadi pencetak gol terbanyak di Brasileiro Serie A musim lalu untuk membantu timnya merebut gelar keempat mereka, ia berhasil mengoleksi 20 gol dari 28 laga.

Mourinho Janji Bakal Membuat Torres Cemerlang Lagi

200146_620Manajer Chelsea Jose Mourinho sesumbar bakal memperbaiki performa Fernando Torres selama di bawah asuhannya. The Special One berjanji akan membawa lagi kejayaan pemain bernilai 50 juta pounds itu menjadi salah satu penyerang paling ditakuti di Eropa.

Pemain depan asal Spanyol itu kemarin tampil pertama kali dalam laga pramusim Chelsea setelah mengikuti Piala Konfederasi. Torres, 29 tahun, tampil sebagai pemain pengganti di babak kedua dalam pertandingan melawan Inter Milan dengan hasil 2-0 untuk Chelsea di Indianapolis.

Torres sebelumnya menikmati reputasi sebagai salah satu striker paling potensial di Eropa saat masih membela Liverpool. Di sana dia menggunakan kecepatannya untuk mengeksekusi bola yang dikirimkan oleh Steven Gerrard dan Xabi Alonso.

Namun, kecemerlangannya di Anfield memudar setelah dia bermain di Stamford Bridge, satu hal yang masih menjadi misteri besar saat ini. Salah satu alasan kenapa Torres tak lagi cemerlang adalah selama di Chelsea dia lebih sering digunakan sebagai penyerang tengah sepenuhnya ketimbang sebagai seorang penyelesai akhir.

“Kami tahu permainan Torres. Ketika kami melihat Torres saat akan mencetak gol dikepung dua atau tiga pemain musuh, kami tahu dia tak akan menghasilkan sekeping keajaiban. Tapi inilah Torres. Kami ingin tim ini tak belajar bermain dengan dia, tapi untuk berkembang bagaimana bermain dengannya,” kata Mourinho.

Mou mengatakan tak akan mengubah model permainan Torres karena menurut dia tak mungkin. “Tapi kami ingin tim untuk beradaptasi dan mengajarkan tim bagaimana menggunakan kualitas terbaiknya karena permainannya adalah permainannya,” ujar bekas pelatih Real Madrid itu.

Menurut Mou, Torres bukanlah anak kecil lagi. Torres, kata Mou, ada dalam usia  yang sulit untuk mengubah gaya permainannya lagi. “Dia adalah dia. Dan dia sangat bagus dengan kualitasnya. Jadi, kami perlu belajar dan mendukung permainannya,” kata Mou.

Mourinho mengatakan, Torres dalam kondisi motivasi yang sangat tinggi saat ini. “Jadi, kita lihat saja apa yang bakal terjadi. Kami di sini untuk mendukungnya.”

Piala Konfederasi 2013 : Sejarah pertemuan Brazil vs Spanyol

tim nasional BrazilPertandingan final Piala Konfederasi pada Minggu (30/6) antara tuan rumah dan juara betahan Brazil melawan juara dunia Spanyol akan menjadi laga bergengsi bagi kedua tim.

Spanyol merupakan tim tangguh dan stabil dalam enam tahun terakhir, tapi Brazil juga sedang bangkit di bawah asuhan pelatih Luiz Felipe Scolari dan tim Selecao memimpin pertemuan mereka dengan empat kemenangan dan dua seri dalam delapan laga sebelumnya dengan tim La Furia Roja.
Tim Nasional Spanyol 2
Tim Spanyol menang pada pertemuan pertama mereka pada Piala Dunia 1934 di Italia, demikian menurut laporan kantor berita AFP.Tetapi tim Selecao membalas dengan angka 6-1 di Rio di hadapan 153.000 penonton 16 tahun kemudian, kendati Brazil akhirnya mengalami kekalahan menyakitkan di final melawan Uruguay di Maracana.

Brazil menang lagi di Piala Dunia 1962 di Chile, ketika mereka mempertahankan piala yang akhirnya mereka angkat lagi untuk pertama kalinya di Swedia empat tahun sebelumnya.
Pertemuan selanjutnya terjadi pada pertandingan Piala Dunia 1978 di Argentina, tempat keduanya mengakhiri laga tanpa gol di Mar del Plata.Satu gol Socrates menghantarkan kemenangan mereka pada penyisihan grup Piala Dunia 1986 di Meksiko, sebelum Spanyol menang pada pertandingan persahabatan tahun 1990 di Gijon, kemudian seri pada 1999 di Vigo, juga dalam laga persahabatan.

Piala-Konfederasi 2013 – Uruguay Wajib Menang Melawan Nigeria

luiSuarez2

Kekalahan atas Spanyol membuat Uruguay berada pada situasi sulit dimana mereka harus membungkam Nigeria jika ingin lolos dari fase grup. Pasalnya, The Eagles baru saja pesta gol ke gawang wakil Oseania, Tahiti.

Pada pertandingan lain, Spanyol diprediksi akan menang mudah atas Tahiti dan memastikan tempat di semifinal. Sementara itu, jika berhasil mengungguli La Celeste, Nigeria dipastikan jadi wakil grup B pada fase selanjutnya.

Pelatih Oscar Washington Tabarez menyadari betul bahaya yang mengancam timnya karena jika gagal menang, mereka bakal mengepak koper lebih awal dari Brasil. Duet maut di lini depan, Luis Suarez dan Edinson Cavani diharapkan jadi penentu langkah selanjutnya bagi Uruguay.

Akan tetapi, berbekal skuad muda nan matang, Nigeria asuhan Stephen Keshi terbukti dapat tampil konsisten meski ‘hanya’ melawan tim yang kultur sepak bolanya tak begitu kentara tersebut. Kini, mampukah Uruguay yang notabene adalah tim terbaik di Amerika Selatan, lolos dari momen penghakiman mereka?

Kedua tim belum pernah bersua sebelum laga ini dilangsungkan. Nigeria berhasil meraih kemenangan pada laga teranyar mereka kontra wakil Amerika Selatan (3-1 vs Venezuela). Sementara hasil maksimal juga direngkuh Uruguay pada pertemuan terakhir mereka melawan wakil Afrika (2-0 vs Angola).

Jawara Piala Afrika itu kebobolan enam gol dalam tujuh laga terakhir. Sejak dibungkam Peru pada Mei 2012, Nigeria sampai saat ini berstatus belum terkalahkan.

Nnamdi Oduamadi jadi pencetak gol terbanyak sementara Piala Konfederasi berkat hat-trick  ke gawang Tahiti.Pada laga terakhir yang dimenangkan Spanyol (2-1), Uruguay hanya melesakkan enam tembakan dan persentase penguasaan bola sebesar 29 persen.

Dalam 10 laga di semua kompetisi, Uruguay baru menang tiga kali. Sebanyak 10 gol telah dicetak Luis Suarez sejak gelaran Pra Piala Dunia 2014 hingga Piala Konfederasi dilangsungkan.

Tim Tahiti Diprediksikan Menjadi Lumbung Gol Tim Spanyol

Tim Nasional Tahiti

Spanyol akan menghadapi Tahiti di babak penyisihan Grup B Piala Konfederasi 2013 di Stadion Maracana, Kamis 20 Juni 2013 atau Jumat dini hari WIB. Jika dilihat dari rangking kedua negara tersebut, banyak yang memprediksi Spanyol akan menghancurkan Tahiti. Ya, saat ini Spanyol menjadi tim terbaik versi FIFA sedangkan Tahiti rangking 138 dunia.

Bagi Tahiti, keikutsertaan mereka ke Piala Konfederasi ini merupakan untuk pertama kalinya. Mereka datang dengan status sebagai Juara Oseania. Sadar jika negara mereka akan menjadi lumbung gol, pelatih timnas Tahiti, Eddy Etaeta bahkan mengatakan akan senang jika bisa mencetak gol ke gawang lawan.

Doa Etaeta dikabulkan, saat melawan Nigeria di laga perdana di Piala Konfederasi, Tahiti bisa mencetak gol ke gawang The Super Eagles lewat Jonathan Tehau. Meski akhirnya harus mengakui keunggulan Nigeria dengan skor 1-6, Etaeta mengaku bangga terhadap para pemain Tahiti. Bahkan emosi sempat menyelimuti dirinya saat lagu kebangsaan dikumandangkan.

“Saya benar-benar tergerak, hampir saja menangis. Kami menonton Piala Dunia hanya lewat televisi. Sekarang, kami pesertanya,” ujar Etaeta pada FIFA.com. Tahiti merupakan negara terkecil yang pernah mengikuti turnamen senior FIFA tercatat hampir tidak memiliki pemain profesional di dalam skuad mereka.

Satu-satunya pemain profesional di skuad Tahiti adalah Marama Vahirua yang bermain di klub Nancy di Ligue 1 Prancis. Tak heran jika seluruh masyarakat Tahiti menonton pertandingan bersejarah tersebut. “Seluruh masyarakat Tahiti menonton. Presiden kami mengirimkan pesan dan bahkan menunda seluruh rapat kabinet (untuk menonton laga ini),” lanjut sang pelatih. Lumbung Gol Tahiti yang dijuluki Team Fenua ini sebenarnya bukanlah negara pertama yang menjadi lumbung gol di Piala Konfederasi. Sebelumnya, beberapa negara di Asia dan Oseania seperti Arab Saudi, Australia dan Selandia Baru kerap menjadi bulan-bulanan negara kuat di Eropa dan Amerika Latin.

Arab Saudi misalnya, mereka pernah dipermalukan Brasil 2-8 di PIala Konfederasi 1999. Atau Selandia Baru yang takluk 0-5 dari Spanyol di Piala Konfederasi 2009.

Lalu berapa gol yang akan dicetak La Furia Roja ke gawang Tahiti nantinya? Apakah pelatih Vicente Del Bosque akan memainkan pemain andalannya demi mengamankan tiket ke semifinal? Menarik untuk melihat taktik kedua pelatih, yang jelas kemenangan bisa memperlancar jalan La Roja ke semifinal.

Hasil-hasil mengejutkan di Piala Konfederasi 1997 – 2009

Piala Konfederasi 1997

Piala Konfederasi pertama yang diorganisir FIFA, banyak tercatat pesta gol di babak penyisihan grup. Arab Saudi yang bertindak sebagai tuan rumah dibungkam 0-3 dan 0-5 oleh Brasil dan Meksiko di babak penyisihan grup. Sementara itu wakil Asia lainnya, Uni Emirat Arab takluk 1-6 dari Republik Ceko. Tak hanya itu, laga finalnya juga berat sebelah. Bayangkan saja, Brasil yang saat itu diperkuat Ronaldo dan Romario melumat Australia dengan skor 6-0 di final.

Brasil 5 – 0 Arab Saudi
Republik Ceko 6 – 0 Uni Emirat Arab
Brasil 6 – 0 Australia

Piala Konfederasi 1999

Arab Saudi lagi-lagi harus menjadi lumbung di turnamen yang diadakan di Meksiko tersebut. Pertama di babak penyisihan grup, mereka harus kebobolan lima kali dan kalah 1-5 dari Meksiko. Di semi-final, Arab Saudi kembali menelan kekalahan memalukan dari Brasil. Tak tanggung-tanggung, Ronaldinho cs menyarangkan delapan gol dan menang 8-2 atas wakil Asia tersebut. Uniknya, The Green Falcons pesta gol ke gawang Mesir, di babak penyisihan grup, mereka menang 5-1.

Meksiko 5 – 1 Arab Saudi
Arab Saudi 5 – 1 Mesir
Brasil 4 – 0 Jerman
Brasil 8 – 2 Arab Saudi

Piala Konfederasi 2001 dan 2003

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, Piala Konfederasi yang diadakan di Korea/Jepang sebagai turnamen pemanasan jelang Piala Dunia 2002 ini tidak banyak terjadi pesta gol. Prancis yang bermain sebagai juara Piala Eropa 2000 tampil superior dengan menang telak 5-0 dan 4-0 atas Korea Selatan dan Meksiko. Sementara itu di Piala Konfederasi 2003 juga hanya terjadi satu “pembantaian” yaitu ketika Prancis mengalahkan Selandia Baru 5-0.

Piala Konfederasi 2001
Prancis 5 – 0 Korea Selatan
Prancis 4 – 0 Meksiko

Piala Konfederasi 2003
Prancis 5 – 0 Selandia Baru

Piala Konfederasi 2005 dan 2009

Di dua Piala Konfederasi terakhir juga tidak ada tim yang benar-benar menjadi lumbung gol. Pada Konfederasi 2005, kekalahan telak justru terjadi di final saat Brasil bertemu Argentina. Tak disangka, Selecao menghancurkan Tim Tango 4-1. Sementara di Piala Konfederasi 2009, kekalahan telak hanya dialami Selandia Baru yang kalah 0-5 dari Spanyol.

Piala Konfederasi 2005
Brasil 4 – 1 Argentina

Piala Konfederasi 2009
Spanyol 5 – 0 Selandia Baru