Tag Archives: Diego Forlan

Forlan Rela Jadi Cadangan

Austria v Uruguay - International Friendly MatchPiala Dunia 2014 Brasil mungkin akan menjadi kesempatan terakhir bagi Diego Forlan memperkuat Uruguay di ajang internasional. Kendati masih aktif bermain sepak bola, usianya kini telah 35 tahun. Namun, pemain yang kini membela klub Jepang, Cerezo Osaka itu mengakui dirinya sudah berada di ujung karier, termasuk bersama “La Celeste”.

Meski begitu, ia berharap untuk bisa terus bergelut di dunia sepak bola saat pensiun nanti. Yang penting, saat ini Forlan ingin memberi yang terbaik bagi timnas Uruguay musim panas nanti. Ia menyadari timnya berada di grup yang berat bersama Italia, Inggris, dan Kosta Rika.

Namun menurutnya, semua tim memiliki peluang sama besar untuk bisa lolos ke babak selanjutnya. Ia bahkan juga rela menjadi cadangan demi kepentingan “La Celeste”. Mengingat usianya yang sudah tidak muda, kemungkinan posisi striker akan diserahkan kepada Luis Suarez dan Edinson Cavani.

Forlan Puas Cetak Gol Fantastis

Diego Forlan

Uruguay sukses menaklukkan Nigeria 2-1 di penyisihan grup Piala Konfederasi di Arena  Fonte Nova, Jumat 21 Juni 2013. Diego Forlan memastikan kemenangan Uruguay berkat golnya pada menit 51.

Gol tersebut tepat tercipta di laga ke-100 Forlan bersama Uruguay. Striker Internacional ini juga berhasil mencetak rekor sebagai top scorer sepanjang masa Uruguay, dengan torehan 34 gol.

Forlan mengaku senang bisa mencetak gol yang fantastis. Gol Pemain Terbaik Piala Dunia 2010 ini membuat peluang Uruguay menembus semifinal kembali terbuka.

“Selalu menyenangkan bisa bermain bersama tim nasional dan juga mencetak gol. Itu merupakan pertandingan ke-100 saya. Bermain dalam kompetisi seperti ini adalah luar biasa bagi saya. Saya pikir kami pantas berada di sini karena memenangkan Copa America,” kata Forlan.

Forlan sukses menjebol gawang Nigeria memaksimalkan umpan Edison Cavani. Tendangan keras mantan pemain Inter Milan ke kiri atas gawang tidak terjangkau oleh kiper Nigeria, Vincent Enyeama.

“Itu adalah gol yang fantastis. Itu sama dengan gol yang saya cetak beberapa bulan lalu bersama Internacional. Namun saat itu dianulir karena offside. Akhirnya gol datang pada hari besar dan saya sangat senang,” kata pemain 34 tahun ini.

Nasib Uruguay kini tergantung pada pertandingan terakhir melawan Tahiti, 23 Juni 2013. Uruguay kini mengoleksi 3 poin, sama dengan yang diperoleh Nigeria.

“Kami harus menang melawan Tahiti dan mencoba lakukan yang terbaik. Kami cukup melanjutkan pekerjaan kami dan menang, tak perlu khawatir dengan yang terjadi di laga Spanyol melawan Nigeria,” kata Forlan.

Bobol Casillas, Suarez Taklukkan Forlan

suarez4

Uruguay memang takluk 1-2 dari Spanyol dalam laga perdana Grup B Piala Konfederasi 2013 di Recife, Brasil, Senin (17/6/2013), tetapi striker La Celeste Luis Suarez justru menang.

Mencetak gol ke gawang La Roja—julukan timnas Spanyol—yang dikawal Iker Casillas, bukan berarti Suarez menang atas juara dunia 2010 itu.

Pemain yang pada musim lalu merumput bersama Liverpool itu malahan ‘mengalahkan’ rekan satu timnya yang lebih senior di barisan depan Uruguay yakni Diego Forlan.

Gol ke gawang Spanyol itu merupakan gol Suarez yang ke-33 bagi timnas Uruguay. Secara kuantitas, jumlah itu sama dengan yang dicapai Forlan kakek dari Diego Forlan dan merupakan rekor terbanyak bagi juara dunia 1930 dan 1950 itu.

Namun, secara kualitas Suarez berhak menjadi yang teratas sebagai pencetak gol terbanyak bagi timnas Uruguay, karena 33 gol yang dilesakkannya mampu dihasilkan hanya dalam 65 pertandingan.

Dengan kata lain, produktivitas Suarez mencapai 50,77% atau 0,5 gol per pertandingan. Sementara itu, Forlan sampai saat ini telah melakoni 99 pertandingan bersama timnas Uruguay atau tingkat produktivitasnya hanya 33% atau hanya 0,3 gol per pertandingan.

Bersama timnas Uruguay, pemain bernama lengkap Luis Alberto Suarez Díaz itu mencetak gol perdananya pada 13 Oktober 2007 saat menjamu Bolivia di Stadion Centenario, Montevideo, pada babak kualifikasi Piala Dunia 2010.

Indonesia sempat menjadi korban keganasan Suarez ketika dalam laga persahabatan di Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 8 Oktober 2010 lelaki kelahiran Salto, Uruguay, 26 tahun lalu itu menjebol gawang Markus Harison tiga kali.

Bahkan, tim sekuat Chile pun pernah dibobolnya sampai empat kali dalam satu pertandingan. Itu terjadi ketika Uruguay menekuk Chile empat gol tanpa balas pada babak kualifikasi Piala Dunia 2014 di Montevideo pada 11 November 2011.

Forlan Tak Sesali Keputusan untuk Menuju Internacional

diego forlanKompetisi di benua Eropa lazimnya memberi daya tarik tersendiri buat pesepakbola. Namun, Diego Forlan tidak menyesali keputusannya untuk hijrah ke Brasil setelah sebelumnya membela Inter Milan.

Sejak direkrut meninggalkan Independiente pada tahun 2001, penyerang Uruguay berusia 33 tahun itu berhasil menjulangkan namanya bersama beberapa klub Eropa.

Tak terlalu bersinar bersama MU, Forlan akhirnya bisa memamerkan keahliannya menjebol gawang lawan saat berseragam Villarreal yang ia bela pada periode 2004-2007.

Performa tak jauh beda lantas Forlan perlihatkan di Atletico Madrid (2007-2011) yang menjadi klub Spanyol kedua dalam kariernya. Tetapi peruntungannya berubah ketika hijrah ke Inter pada musim panas 2011.

Gangguan cedera berulang kali harus ia hadapi di klub Italia tersebut. Walhasil, cuma dua gol yang bisa Forlan cetak dalam 20 penampilannya untuk ‘La Beneamata’ sebelum akhirnya memutuskan untuk angkat kaki lebih dini pada musim panas 2012 lalu.

“Italia tiba pada waktu buruk buatku. Ketika aku tiba di sana, tim sedang mengalami pergulatan,” katanya dalam wawancara kepada BBC yang dikutip Football Italia.

“Aku mencetak gol dalam pertandingan pertama, sebuah gol bagus, dan kemudian dilanda cedera dan absen 2,5 bulan. Aku kembali lalu cedera lagi. Pada akhirnya aku justru dimainkan di posisi tidak ideal,” beber Forlan.

Pada awal Juli 2012, setelah memutus kontraknya dengan Inter, Forlan memilih Internacional sebagai klub barunya. Keputusan itu terbilang tidak biasa mengingat klub yang ia tuju merupakan klub Brasil dan pesepakbola lazimnya berusaha tetap tampil di benua kompetisi Eropa, atau mencari klub-klub negara Timur Jauh atau Rusia, yang umumnya memberi iming-iming gaji lebih tinggi–jika materi memang yang ia cari.

“Meninggalkan Eropa bukanlah sebuah keputusan sulit. Aku berusaha tidak memiliki penyesalan. Brasil adalah sebuah negara yang amat indah, mereka memainkan sepakbola yang sangat bagus dan menawarkan gaji oke–ini tidak terlalu berbeda dengan Eropa,” nilai Forlan.