Mourinho Coba Jinakkan Pembunuh Raksasa

182617_mono-burgos--kiri--bersama-diego-simeone-dan-jose-mourino--paling-kanan-_663_382

Pertarungan 4 besar Liga Champions dimulai tengah pekan ini. Diawali dengan pertarungan dua kuda hitam: Atletico Madrid melawan Chelsea, di Estadio Vicente Calderon, Selasa 20 April 2014 (Rabu dinihari WIB).

Bagi sebagian pihak, laga ini mungkin kalah prestisius daripada laga semifinal lainnya yang mempertemukan dua raksasa Eropa, Real Madrid melawan juara bertahan Bayern Munich. Namun, laga ini disinyalir tidak akan kalah sengit dan keras.

Pencapaian keduanya, melaju ke babak 4 besar patut diapresiasi. Sebab, berstatus sebagai tim kuda hitam yang dianggap hanya menjadi tim penggembira, nyatanya kedua tim ini mampu membuat kejutan dan melangkah sejauh ini.

Dan dengan berbagai kejutan yang kerap terjadi sepanjang berlangsungnya Liga Champions, tidak menutup kemungkinan salah satu di antara keduanya berhasil melaju ke final dan merengkuh trofi paling bergengsi Eropa ini.

Keberuntungan Vs Pembunuh Raksasa

Untuk mencapai semifinal, jalur berbeda dilalui keduanya. Jika Chelsea dianggap tim beruntung, Atletico yang minim pengalaman justru bernasib lebih buruk karena harus berhadapan dengan para raksasa Eropa.

Chelsea tergabung di grup yang terbilang enteng, yaitu di Grup E bersama Schalke 04, Basel dan Steaua Bukharest. Chelsea pun sukses lolos dengan memuncaki klasemen dengan empat kemenangan dan dua kalah.

Di babak 16 besar, keberuntungan juga menaungi Chelsea. Mereka lolos dari ancaman para raksasa Eropa dan hanya diharuskan bertemu Galatasaray. Hasilnya, Chelsea lolos ke perempatfinal dengan agregat 3-1.

Di babak perempatfinal, Chelsea dipertemukan dengan PSG dan tidak bertemu para kandidat juara macam Barcelona dan Bayern Munich. Sempat tampil buruk dan kalah 1-3 di leg 1, Chelsea mampu bangkit dengan menang 2-0 di leg 2.

Sementara itu, Atletico mendapat ujian berat kala melakoni babak 16 besar. Diego Costa dan kawan-kawan diharuskan menghadapi AC Milan. Meski sedang terpuruk, namun AC Milan tim yang sudah malang melintang di kancah Eropa.

Hasilnya? Sangat mengejutkan. Atletico bukan hanya mampu lolos, tapi juga lolos dengan sangat meyakinkan. Milan dua kali dipaksa bertekuk lutut 0-1 dan 1-4. Atletico pun lolos ke semifinal dengan agregat telak 5-1.

Lawan berat kembali menghadang Atletico di babak perempat final, Barcelona. Namun, Atletico membuktikan sebagai tim bermental juara dan punya motivasi tinggi. Sempat ditahan imbang 1-1, Atletico akhirnya memastikan lolos setelah menang 1-0 di leg 2.

Sukes mempecundangi AC Milan dan Barcelona membuat Atletico layak dijuluki pembunuh raksasa.

Mourinho Vs Simeone

Dalam duel ini, dua sosok vital yang paling disorot tentu saja adalah Jose Moorinho (manajer Chelsea) dan Diego Simeone (pelatih Atletico Madrid). Bagaimana keduanya akan beradu taktik untuk menjadi yang terbaik.

Sosok Mourinho sudah tidak asing lagi. Pelatih asal Portugal itu dua kali menjuarai Liga Champions bersama dua klub berbeda (Porto 2004 dan Inter Milan 2010). Dan semifinal musim ini merupakan semifinal kelima berturut-turut Mourinho.

Dan melawan Atletico, Chelsea punya rekor bagus. Dari dua pertemuan keduanya di penyisihan Liga Champions di musim kompetisi 2009-2010, Chelsea meraih satu kemenangan (menang telak 4-0) dan satu hasil imbang (2-2).

Mourinho tentu tidak ingin nasib sialnya dalam tiga tahun terakhir di semifinal Liga Champions terulang. Seperti diketahui, Mourinho selalu gagal membawa Real Madrid melaju ke final dalam tiga tahun terakhir.

Dan melawan Atletico besutan Simeone, Mourinho punya rekor yang bagus. Dia memenangkan tiga laga dari empat pertemuannya dengan Atletico di semua ajang. Catatan yang disinyalir bisa mengangkat mental Mourinho dan The Blues di laga nanti.

Bagaimana dengan Simeone? Sukses Atletico dalam dua musim terakhir tidak bisa dilepaskan dari sosok Simeone. Pelatih 43 tahun itu dianggap sebagai kunci sukses Atletico menjuarai Liga Europa 2012, Piala Super Eropa 2012 dan Copa del Rey 2013.

Hal itu dibuktikannya musim ini. Simeone mampu mengangkat Atletico masuk dalam perburuan gelar juara La Liga, mematahkan dominasi Real Madrid dan Barcelona. Atletico bahkan berpeluang besar menjadi juara La Liga musim ini.

Di saat bersamaan, Atletico juga tampil garang di Liga Champions dan selangkah lagi akan menyamai sukses tahun 1974 kala menjadi runner up Liga Champions. Ini semua berkat polesan Simeone.

Orang pertama yang memberi Diego Simeone pekerjaan sebagai pelatih di klub Eropa, Pietro Lo Monaco, pun angkat bicara. Lo Monaco mengatakan Simeone yang memulai karier dengan melatih klub Serie A, Catania, dianggap mirip Mourinho.

“Simeone adalah pemimpin, dia membawa tim dan menciptakan kebersamaan dengan para pemain. Dia sangat mirip dengan Mourinho, seorang pelatih yang luar biasa dalam hal psikologis dan motivasi,” ucapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *